Wednesday, October 6, 2010

cinta mati

pandang aku.
pandangi saja aku.

aku begitu mencintaimu. aku begitu memujamu. teramat sangat. hingga hati dan tubuh ini, sungguh perih karena tak kuat menampung besarnya perasaan cintaku kepadamu.



pandang aku.
pandangi saja aku.


tidakkah engkau tahu,
setiap jengkal ditubuhku meneriakkan cintaku. cintaku padamu. setiap tarikan nafasku mendesahkan namamu. setiap tatapan mataku mencerminkan, betapa aku sangat mencintaimu.



aku begitu mengharapkanmu.
tapi nyatanya?
apa yg kau perbuat kepadaku?
inikah balasanmu terhadap kesetiaan cintaku?



kau berpaling.
kau melihat kearah yang lain. kau tidak setia.



sadarkah?
kau melukai aku. teramat dalam. kau acuhkan aku. aku yang menyanjungmu. aku yang memujamu. aku yang begitu mencintai dirimu.





pandang aku.
hanya aku. seorang.

kau tidak boleh meninggalkan aku. kau tidak boleh melupakan aku. kau tidak boleh melihat selain aku.





pandang aku.
pilih aku.
dan cintai aku.
hanya aku.
atau mati.



***

ironi

aku termangu.
dan masih terus termangu.
kepada apa yg telah aku dambakan.
kepada apa yg telah aku khayalkan.


masih teringat jelas
dalam memoriku
yg belum padam,
bahwa kau adalah wanita terindah dlm hidupku.
bahwa kau yg adalah nomor satu dihatiku.


masih nampak jelas kuingat, ketika kau
beserta seperangkat senyum manismu
menghampiriku.
bahwa kau berjalan beriringan dgn pesonamu.
bahwa kau hadir bersama
serangkaian mimpi indahmu.
tentang aku.
hanya aku. seorang.




aku termangu.
dan masih tetap termangu.
terhadap apa yang telah aku lakukan.
terhadap apa yang telah aku ciptakan.


kau yg masih
sama seperti dulu,
kini mulai berubah.
tak ada senyuman manis disudut bibir merahmu.
tak ada pesona yg terbias di paras ayumu.
tak ada mimpi-mimpi indah yg kau lontarkan kepadaku.
tak ada apapun
yg tersisa di dirimu.


kau masih sama
seperti saat pertama
kita bertemu.
hanya saja terlihat lain.
kulitmu masih tetap halus,
meski wajahmu pucat.
bibirmu masih merona,
meski senyummu getir.
kau terlihat langsing,
meski tubuhmu dingin.


tp tak apa.
kau akan
tetap cantik sekarang.
sekarang dan selamanya.
kecantikan abadi
yg selalu aku kagumi.
kau tak akan pernah
menjadi tua.



tp sekali lagi,
aku termangu.
dan masih saja termangu.
ketika mereka
tiba-tiba mendatangiku.
menarikku dan menyeretku.


mengapa?
apa yg salah dlm diriku?
salahkah bila aku memujamu?
katakan pd mereka,sayang.
mereka telah salah menilaiku.


lalu sebentar,
mengapa pula
mereka meraihmu?
bahkan dgn teganya memasukkanmu
ke dlm kantong hitam
yang sumpek itu.
kau takkan
suka dgn itu.
aku tahu kau
takkan suka dgn itu.
katakan pd mereka,sayang.
tempat itu pengap.
kau pasti bosan
didalam sana.


kemudian,
aku masih termangu.
dan tetap saja termangu.
meski mereka kini memisahkanmu dariku.
juga pisauku dari tubuhmu.



***

Monday, September 27, 2010

balada gita bergema

seorang lelaki tua peyot rapuh dan lusuh bersandar ditiang listrik

tulang-tulangnya mencuat dan kering kerontang terlihat dati kulitnya yang bergelambir

menandakan bahwa jasadnya sudah termakan umur




topi rotan yang bolong disana-sini menutupi raut mukanya

baunya yang busuk menyengat membuat para lalat-lalat kecil bersorak riang

terlihatlah senyum pahit tersungging di bibirnya yang pecah-pecah




segala anjing menggonggong pun membisu

taringnya berkata tentang ketidakpedulianku

tak diriku tak juga kau





laki-laki itu mengernyit dan memicingkan mata

mentari siang telah mengalahkan kepekatan malam

segala tubuh reyotnya terlihat jelas oleh sang mentari




lelaki tua itu berdiri dan membersihkan debu pada pantatnya

padahal, debu pun sudah memenuhi seluruh tubuhnya tanpa terkecuali

diambilnya keresek hitam dan kaleng minuman penyok di sebelah kirinya




segala bunga berayun pelan

durinya berkata tentang ketidakpedulianku

tak diriku tak juga kau




panas terik siang semakin menyemarakan pasar

pedagang menjajakan lalu pembeli menawarnya

beronggok-onggok daging ayam tergeletak dan dikerumuni lalat riang

sayurnya pun lesu dan layu karena tak laku-laku



orang-orang berlalu lalang dari satu ke yang lain

lelaki tua itu hanya memandang dari kejauhan

cacing diperutnya sudah kering kerontang seperti dirinya karena tak makan 5 hari

tak jauh berbeda dengan keadaan si lelaki tua itu



"bu, ada sisa buat saya?" si tua bertanya

ibu penjaga warung mengernyit jijik

baunya menyengat hidung si ibu

"nggak ada. pergi sana! nanti warungku ikut busuk gara-gara ada kamu!" cecar si ibu

dengan lunglai si tua beranjak pergi

tak kuat lagi menahan lapar yang teramat menyiksanya beberapa hari ini

hanya ada keresek hitam berisikan koran tempat ia beralaskan tidur dan kaleng penyok yang menemani



mukanya pucat, bibirnya pucat, tubuhnya pun ikut-ikutan pucat

mendongak ia ke atas

sambil memejamkan mata ia berkomat-kamit

tak kuat lagi ia robohkan badannya yang lusuh dan kering di sudut pasar

bau sampah menusuk keluar dari tempat sampah samping kirinya

perut kerempeng, tenggorokan kering, bibir pucat


dipejamkan matanya mengenang masa lalu dan hari-harinya

doa ia panjatkan pada yang kuasa

lunglai ia bersandar disana, disudut, dipojok terkumuh pasar



segala malaikat tersenyum padanya

nyanyiannya bergema tentang kerapuhan si tua

walau pahit hidupnya tak ditemui keluh dan duka



segala warga berbisik keesokannya

mengeluh tentang hal baru yang harus mereka laporkan pada aparat setempat

diwajah mereka tersirat berbagai emosi

bukan emosi iba taka ada rasa iba disana

marah mereka rasakan karena harus mengurus si lelaki tua


ya, laki-laki tua dengan keresek hitamnya dan kaleng penyok ditangannya

juga dengan ketiadaannya dari dunia yang fana ini

tentang kematiannya dan juga seulas senyum yang tesungging dibibirnya



angin bertiup pelan di keramaian pasar

kesunyiannya berbicara tentang ketidakpedulianku

tak diriku tak juga kau


***

tak bersisa

pengkhianatan
mewarnai hari-hariku


terlalu kejam

tuk jadi kenyataan


terlalu kusut

tuk jadi mimpi buruk


kesunyian menyayat

dgn lengang dan gamang

serta mengumandangkan

nada-nada empati


seolah meresapi

kepedihan hati



andai..

andai tak sesulit ini



andai..

andai kau tak rampas seluruh hidupku



andai..

andai kau sisakan

sedikit saja harapan

atau angan-angan


agar aku bisa

tegap berdiri kembali



sadarkah kau?

sadarkah?



setiap nafasku

kau renggut paksa

setiap waktu

dengan kejamnya




setiap detik..

setiap detik

dalam hidupku



tak bersisa..


kesenyapan malam

kesepian begitu sunyi


ketika aku
berkutat dgn lengang


jingga berarak
membias pucat


rona malam menguar


sesaat,
langit tersingkap
awan kelam


hingga senja memudar
bayang menyipit
penat menusuk sukma



tahukah?



terkulai aku
pd kesunyian fana



menunggu celah temaram
diantara malam




sunyi




sepi





begini.

tiada

aku mencintaimu

cinta kepada setiap

rona pias di wajahmu

yg menggantung indah

pada ujung memoriku


aku mencintaimu

cinta kepada setiap

tarikan - tarikan

nafas sengalmu


aku mencintaimu

cinta kepada setiap

gerak dan isyarat halus

dari setiap jengkal tubuhmu


aku mencintaimu

cinta kepada setiap

kerlingan nakal

mata redupmu

yg hapus pekatku

hingga semburat senyum selalu merona rekah

pd ujung-ujung bibir manisku



dan aku mencintaimu

sangat sangat cinta

dan akan tetap mencinta



meski sosokmu kini

telah pudar meniada

dlm pembaringan baka


dan tinggalkan jasadku

seorang diri





sendiri.

Thursday, September 23, 2010

look what you did to me

dear you,

the one who always too much say

the one who always messing up my whole day

the one who always makes me feel this' the way


dear you,

who never send a love for me

but,with passionately will show

how care are you to me


yes you,

who always be there for me

and will do perfectly

without a thousand reason


but you,

disappear now

like a wind in the shadow

it's like we have to found

in a whole of fog


and you,

broke my heart succesfully

brought me up higher

then throw me down deeper


how did it feel?

did you know?

i'm not okay

i'm so grey



because you did it well

you make me desperately

truly madly

and deeply in love



with you..